Hambatan visual (ketunanetraan)  pada seseorang  mengakibatkan munculnya tiga keterbatasan yaitu  keterbatasan dalam konsep dan pengalaman, keterbatasan dalam interaksi secara sosial, serta keterbatasan dalam bergerak dari suatu tempat ke tempat lain yang diinginkan (mobilitas). Ketiga keterbatasan tersebut mengakibatkan seorang tunanetra membutuhkan tiga keterampilan dasar yaitu : keterampilan  komunikasi , keterampilan sosial dan keterampilan orientasi mobilitas (O&M). Ketiga keterampilan tersebut bagi orang awas dapat dikuasai secara  insidetil dengan meniru orang lain melakukan hal tersebut, namun tidak demikian bagi tunanetra.

Keterampilan komunikasi dan keterampilan sosial, hanya bisa dikuasai dengan optimal bila tunanetra memiliki kemandirian dalam bergerak atau keterampilan O&M.  Karena itu keterampilan O&M mendasari keterampilan komunikasi dan keterampilan sosial pada tunanetra. Dengan demikian program O&M merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dengan program pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra. Pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra menjadi tak berarti bila tidak ada program O&M didalamnya.

Program Orientasi dan Mobilitas bertujuan agar anak dengan hambatan visual mampu memasuki lingkungan yang dikenal maupun tidak dengan aman, baik, efektif dan efisien tanpa banyak mendapat bantuan dari orang lain (Emerson, 2006).