Latar Belakang PPOM UPI

Data empiris yang menunjukan beberapa hal yang terjadi terkait pelaksanaan pembinaan orientasi dan mobilitas bagi tunanetra :

Pertama banyak tenaga pembina O&M di lembaga pendidikan dan rehabilitasi tunanetra di Indonesi tidak memiliki latar bekang pendidikan khusus. Sebagian besar berlatar belakang disiplin ilmu lain bahkan terdapat beberapa pembina berjenjang pendidikan SMA. Keterbatasan tenaga pembimbing di SLB membuat kondisi tersebut berlangung bertahun-tahun. Pembinaan O&M bagi tunanetra dilakukan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang terbatas.

Kedua, terdapat penempatan guru pendidikan khusus yang tidak sesuai dengan spesialisasi yang mereka ambil pada saat menempuh jenjang pendidikan formal di Perguruan tinggi. Terdapat kasus guru yang berlatar belakang pendiadikan khusus dengan mengambil spesialisasi tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras maupun kekhususan lainnya ditempatkan atau bekerja di lembaga pendidikan atau rehabilitasi  bagi tunanetra. Hal tersebut menyebabkan guru layanan pembinaan O&M bagi tunanetra menjadi kurang optimal.

Ketiga, beberapa lembaga penyelenggara pendidikan calon guru pendidikan khusus atau pendidikan Luar Bisa di perguruan tinggi memiliki kebijakan adanya penempatan aspek kompetensi pembina orientasi dan mobilitas dalam wujud pemberian mata kuliah O&M.  Seluruh calon guru (mahasiswa) pendidikan khusus meskipun tidak mengambil spesialisasi tunanetra wajib mengambil mata kuliah O&M meskipun target capaian tidak sedalam dan seluas pada calon guru yang mengambil spesialisasi tunanetra. Beberapa lembaga pendidikan bagi tunanetra melakukan pembinaan O&M bagi tunanetra dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan seadanya. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat penguasaan Orientasi dan Mobilitas bagi tunanetra menjadi tidak holistik.

Keempat, keberadaan tunanetra di masyarakat tidak hanya di lembaga pendidikan dan rehabilitasi saja, tetapi mereka tersebar seperti masyarakat lainnya. Sebagai bagian dari masyarakat, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti masyarakat lainnya. mereka punya hak untuk bergerak dan berpindah (mobilitas) dengan aman, nyaman dan efektif. Didalam kewajiban melakukan aktifitas kehidupannya sehari hari mereka juga membutuhkan pelayanan yang tepat, karena itu petugas pelayanan umum seperti polisi, perawat khususnya di bagian mata, guru di sekolah inklusi dan lain sebagainya perlu mengetahui teknik teknik khusus yang standar,  aman, efektif dan manusiawi dalam membantu/membimbing tunanetra.  

Riwayat  Singkat Pelatihan Instruktur O&M di UPI Diawali dari adanya kerjasama antara Balitbangdikbud cq. Pusat Kurikulum dengan HKI Inc. (Helen Keller International Inc.) New York dan IKIP Bandung sekarang UPI pada tahun 1978 –  1981 di bidang pendidikan terpadu dan O&M bagi tunanetra.

Melalui tenaga ahli yang dimiliki HKI Inc. New York diadakanlah pelatihan  Instruktur O&M di Puslatnas O&M  IKIP Bandung. Angkatan pertama diikuti oleh 4 orang peserta, yaitu perwakilan kemendikbud 2 orang, dari kemensos 1 orang dari IKIP Bandung 1 orang.  Angkatan ke 2  Sampai akhir kerjasama (1981) HKI Inc., peserta dari IKIP Bandung diminta membantu sebagai asisten pelatih dan telah dilaksanakan pelatihan sebanyak delapan angkatan dengan lama pelatihan 4 bulan per angkatan.

Di akhir  kerjasama diatas, sertifikat kewenangan sebagai pelatih untuk calon pelatih O&M pertama di Indonesia  diberikan   HKI inc. New York  kepada seorang Dosen IKIP Bandung (Instruktur Irham Hosni) setelah berhasil menjadi asisten pelatihnya selama 2,5 tahun.

Pelatihan Instruktor OM selanjutnya tetap dilanjutkan oleh tenaga ahli Indonesia. Puslatnas O&M  IKIP Bandung bekerja sama dengan subdit PSLB Depdikbud dan sampai dengan tahun 1995 telah berhasil menyelenggarakan  pelatihan sebanyak 13 angkatan.

Puslatnas O&M di IKIP Bandung sampai dengan tahun 1995 telah menghasilkan instruktur lebih dari 200 orang dari 21 angkatan. Sebagian besar lulusan bekerja di sekolah Khusus milik kemendikbud, panti sosial Bina Netra milik Kemensos, RS Mata milik Kemenkes, dan lembaga lainnya yang menangani  tunanetra  di berbagai kota di Indonesia.

Keberlangsungan pelatihan instruktur ini tidak terlepas dari dukungan berbagai fihak seperti DNIKS (Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial)

Dengan adanya kekosongan dalam mencetak Instruktor O&M dari tahun 1995 sampai 2017, saat ini hampir seluruh lembaga Pendidikan dan Rehabilitasi untuk tunanetra sudah tidak lagi memiliki qualified Instruktur berkualifikasi O&M. 

Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam gambaran empiris maka dipandang penting upaya peningkatan kualitas keterampilan guru yang memiliki tugas sebagai pembina orientasi dan mobilitas bagi tunanetra melalui penyelenggaraan pelatihan yang berkualifikasi dilakukan secara holistik dan mumpuni oleh lembaga yang dapat dipertanggung jawabkan baik dalam proses maupun luaran dari sebuah pelatihan.

Oleh karena itu perlu ada  usaha bersama  antara pengguna di lapangan dan dunia akademisi untuk menghidupkan kembali Pusat Latihan Nasional (Puslatnas) Orientasi dan Mobilitas di Universitas Pendidikan Indonesia

Untuk Program Pelatihan Instruktur O&M, setelah selesai pelatihan akan mendapatkan sertifikasi sebagai sebuah perwujudan instruktur yang profesional.

Pelatihan Instruktur O&M ini dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan O&M UPI didukung oleh Direktorat PKLK dan ICEVI Indonesia.